Home › News › Teknologi Terkini
Teknologi TerkiniQRIS Tap vs QRIS Biasa: Perbedaan dan Cara Pakainya
Pernah lagi antre di kasir, buka aplikasi pembayaran, tekan menu QRIS, arahkan kamera ke kode, lalu ternyata kamera susah fokus? Atau kamu sedang buru-buru naik transportasi umum dan rasanya repot kalau masih harus membuka kamera untuk scan QR satu per satu? Nah, di sinilah QRIS Tap terasa menarik. Kalau QRIS biasa mengandalkan proses scan kode, QRIS Tap memungkinkan pengguna melakukan pembayaran cukup dengan mendekatkan smartphone ke terminal pembayaran menggunakan teknologi NFC. Kedengarannya mirip contactless payment? Memang konsep penggunaannya cukup dekat. Bedanya, QRIS Tap tetap berada di dalam ekosistem QRIS Indonesia. Bank Indonesia resmi meluncurkan QRIS Tap pada 14 Maret 2025 sebagai alternatif pembayaran digital yang lebih cepat untuk transaksi ritel dan layanan publik. (Bank Indonesia) Lalu sebenarnya QRIS Tap vs QRIS biasa apa bedanya? Apakah semua HP bisa menggunakannya? Dan bagaimana cara pakainya? Mari kita bahas satu per satu.
Apa Itu QRIS Tap?
QRIS Tap atau QRIS Tanpa Pindai adalah metode pembayaran QRIS yang menggunakan teknologi Near Field Communication atau NFC.
Pengguna tidak perlu mengarahkan kamera ke sebuah QR code.
Cukup buka aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS Tap, pilih sumber dana, lakukan otorisasi, lalu dekatkan smartphone ke terminal pembayaran.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS Tap dikembangkan sebagai standar nasional pemrosesan transaksi pembayaran berbasis NFC dan menjadi salah satu pengembangan ekosistem QRIS menuju sistem pembayaran yang lebih modern. (Bank Indonesia)
Secara pengalaman, prosesnya dibuat sesederhana:
Buka aplikasi → pilih QRIS Tap → tap HP → selesai.
Tidak perlu kamera.
Tidak perlu mencari QR di meja.
Tidak perlu menunggu kamera membaca kode.
Apa Itu QRIS Biasa?
QRIS biasa adalah metode pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard yang sudah lebih dulu kita kenal.
Biasanya merchant menampilkan QR code.
Pengguna membuka aplikasi mobile banking atau dompet digital.
Kemudian:
scan QR;
masukkan nominal jika diperlukan;
cek nama merchant;
konfirmasi;
masukkan PIN.
Selesai.
QRIS juga bersifat interoperable.
Artinya merchant tidak harus menyediakan QR berbeda untuk setiap aplikasi pembayaran.
Bank Indonesia menjelaskan merchant cukup memiliki QRIS dari satu Penyedia Jasa Pembayaran yang berizin, lalu pelanggan dapat membayar menggunakan aplikasi QRIS dari berbagai penyedia yang mendukung. (Bank Indonesia)
Inilah salah satu alasan QRIS berkembang cepat di Indonesia.
Satu QR.
Banyak aplikasi.
QRIS Tap vs QRIS Biasa: Apa Perbedaan Utamanya?
Perbedaan paling gampang dilihat ada pada cara mengirim data pembayaran.
QRIS biasa menggunakan QR code.
QRIS Tap menggunakan NFC.
Bank Indonesia secara langsung menjelaskan bahwa pada QRIS CPM, pengguna menampilkan QR code untuk dipindai oleh merchant. Sementara pada QRIS Tap, pengguna cukup mendekatkan smartphone ke terminal pembayaran melalui NFC. (Bank Indonesia)
Supaya lebih jelas, lihat tabel berikut:
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jadi QRIS Tap bukan menggantikan QRIS biasa.
Ia menambah cara baru bertransaksi dalam ekosistem yang sama.
Cara Pakai QRIS Biasa
Kalau sering belanja di coffee shop, minimarket, atau UMKM, kemungkinan proses ini sudah sangat familiar.
Secara umum caranya:
- Buka aplikasi mobile banking atau e-wallet.
- Pilih menu QRIS atau Scan.
- Arahkan kamera ke QR merchant.
- Masukkan nominal jika QR bersifat statis.
- Cek nama merchant dan jumlah pembayaran.
- Masukkan PIN atau metode autentikasi.
- Tunggu transaksi berhasil.
Ada dua bentuk yang cukup umum.
QRIS statis
QR code tetap.
Pelanggan biasanya memasukkan nominal sendiri.
Model ini banyak digunakan UMKM karena mudah.
Cukup cetak satu QR dan taruh di meja kasir.
QRIS dinamis
QR dibuat berdasarkan transaksi.
Nominal biasanya sudah otomatis muncul.
Pengguna tinggal scan dan konfirmasi.
Model ini sering ditemukan di kasir yang sudah terintegrasi dengan sistem POS.
Jadi walaupun disebut “QRIS biasa”, pengalaman penggunaan sebenarnya bisa sedikit berbeda berdasarkan sistem merchant.
Cara Pakai QRIS Tap
Untuk QRIS Tap, prosesnya tidak menggunakan kamera.
Menurut panduan Bank Indonesia, alurnya seperti berikut:
- Buka aplikasi mobile banking atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS Tap.
- Masuk ke menu QRIS.
- Pilih QRIS Tap.
- Tentukan sumber dana.
- Lakukan otorisasi transaksi.
- Dekatkan smartphone ke terminal NFC merchant.
- Tunggu konfirmasi transaksi berhasil.
Sumber dana yang digunakan bisa berasal dari simpanan, uang elektronik server-based, maupun sumber dana lain yang tersedia pada aplikasi penyelenggara sesuai dukungannya. (Bank Indonesia)
Bagian pentingnya ada pada langkah terakhir.
Bukan kamera yang membaca sesuatu.
Smartphone berkomunikasi dengan terminal melalui NFC pada jarak sangat dekat.
Karena itu prosesnya terasa seperti:
tempel HP → transaksi.
Apakah Semua HP Bisa Menggunakan QRIS Tap?
Tidak.
Ini salah satu perbedaan besar dengan QRIS biasa.
QRIS Tap membutuhkan smartphone dengan teknologi NFC.
Kalau HP kamu tidak punya NFC, kamu tidak bisa menggunakan QRIS Tap melalui perangkat tersebut.
Selain hardware, aplikasi pembayaran juga harus sudah mendukung QRIS Tap.
Bank Indonesia menjelaskan pengguna perlu memiliki perangkat dengan NFC serta akun simpanan, kartu kredit, atau uang elektronik server-based pada PJP yang menyelenggarakan layanan QRIS Tap. (Bank Indonesia)
Jadi ada dua syarat utama:
HP mendukung NFC.
dan
Aplikasi pembayaran mendukung QRIS Tap.
Kalau salah satunya tidak tersedia, tetap gunakan QRIS berbasis scan seperti biasa.
Aplikasi Apa Saja yang Mendukung QRIS Tap?
Dukungan QRIS Tap terus diperluas.
Pada halaman resmi Bank Indonesia, daftar PJP yang telah memfasilitasi QRIS Tap per Desember 2025 mencakup beberapa bank dan aplikasi pembayaran.
Di antaranya:
- Bank Mandiri;
- BNI;
- BCA;
- BRI;
- CIMB Niaga;
- PermataBank;
- Bank Sinarmas;
- Bank Mega;
- Bank DKI;
- BPD Bali;
- Bank National Nobu;
- DANA;
- ShopeePay;
- GoPay;
- Bayarind;
- Netzme.
Daftar ini bersifat berkembang karena Bank Indonesia menyebut perluasan PJP dilakukan secara berkala. (Bank Indonesia)
Artinya, tampilan QRIS Tap di aplikasi satu orang belum tentu sama dengan aplikasi pengguna lain.
Kalau belum melihat menu tersebut, cek versi aplikasi terbaru dan dukungan resmi penyedia pembayaran yang kamu gunakan.
QRIS Tap Punya Fitur Single Tap
QRIS Tap bukan cuma punya satu model transaksi.
Bank Indonesia membaginya menjadi dua fitur utama.
Yang pertama adalah Single Tap.
Single Tap digunakan untuk pembayaran dengan nominal tetap atau sekali bayar.
Contohnya:
belanja di toko;
membayar makanan;
membayar tiket dengan tarif tetap;
transaksi ritel.
Alurnya sederhana.
Nominal sudah ditentukan.
Pengguna melakukan tap.
Pembayaran selesai.
Fitur ini paling mirip pengalaman contactless payment pada transaksi ritel.
QRIS Tap Punya Tap In Tap Out untuk Transportasi
Nah, fitur kedua justru lebih menarik.
Namanya Tap In Tap Out.
Konsep ini digunakan untuk transaksi dengan tarif yang tidak langsung diketahui saat pengguna masuk.
Misalnya transportasi umum.
Kamu tap saat masuk.
Kemudian tap lagi ketika keluar.
Sistem kemudian menghitung tarif berdasarkan faktor seperti jarak, waktu, atau profil pengguna.
Bank Indonesia menyebut fitur Tap In Tap Out dirancang untuk memfasilitasi tarif dinamis pada layanan transportasi publik dan parkir. (Bank Indonesia)
Ini membuat QRIS Tap sangat cocok untuk penggunaan seperti:
MRT;
bus;
kereta;
parkir;
transportasi publik lain.
Bayangkan stasiun yang melayani ribuan orang pada jam sibuk.
Kalau setiap orang harus:
buka kamera;
cari QR;
scan;
tunggu;
arus penumpang bisa lebih lambat.
Dengan NFC, proses tap jauh lebih natural untuk sistem transportasi.
QRIS Tap vs QRIS Biasa: Mana yang Lebih Cepat?
Dalam penggunaan normal, QRIS Tap memang dirancang untuk memberikan proses pembayaran yang lebih cepat dan praktis karena tidak membutuhkan scanning QR code secara manual.
Bank Indonesia bahkan menggunakan konsep CeMuMuAH untuk menggambarkan sistem pembayaran ini:
Cepat.
Mudah.
Murah.
Aman.
Andal.
QRIS Tap diluncurkan terutama untuk mendukung kebutuhan transaksi massal seperti transportasi publik dan ritel. (Bank Indonesia)
Tetapi bukan berarti QRIS biasa lambat.
Dalam banyak situasi, scan QR hanya membutuhkan beberapa detik.
Perbedaannya baru terasa besar ketika transaksi dilakukan berulang dan dalam jumlah pengguna tinggi.
Misalnya 10 orang di coffee shop?
QR scan mungkin sudah cukup.
10.000 pengguna masuk MRT pada jam kerja?
Selisih beberapa detik per pengguna sangat berarti.
Contoh Kasus: Naik Transportasi Umum Saat Jam Sibuk
Bayangkan kamu sedang mengejar kereta.
Tinggal tiga menit.
Di depan gate ada antrean.
Kalau pembayaran membutuhkan QR:
buka aplikasi;
pilih scanner;
arahkan kamera;
pastikan pencahayaan cukup;
QR terbaca;
konfirmasi.
Tidak lama, tetapi ada beberapa langkah.
Dengan QRIS Tap:
buka fitur;
otorisasi;
tempelkan HP.
Masuk.
Saat keluar, tap lagi jika sistem menggunakan Tap In Tap Out.
Untuk penggunaan seperti ini, keunggulan QRIS Tap mudah dipahami.
Bukan karena scan QR buruk.
Tapi karena konteksnya membutuhkan proses yang cepat, berulang, dan minim langkah.
Inilah alasan sektor transportasi menjadi salah satu area awal implementasi QRIS Tap.
Apakah QRIS Biasa Akan Digantikan QRIS Tap?
Kemungkinan cara berpikir seperti ini kurang tepat.
QRIS Tap bukan “QRIS generasi baru yang membuat QR lama tidak berguna”.
Keduanya punya konteks yang berbeda.
QRIS biasa punya kelebihan besar:
murah untuk merchant;
mudah dipasang;
hanya perlu QR;
tidak membutuhkan terminal NFC;
bisa digunakan di banyak smartphone.
Untuk warung kecil, penjual kaki lima, atau UMKM, QRIS biasa sangat praktis.
Pedagang cukup punya QR yang dicetak.
Tidak perlu membeli perangkat NFC khusus.
QRIS Tap lebih relevan ketika merchant sudah mempunyai terminal yang mendukung NFC atau membutuhkan throughput transaksi yang tinggi.
Jadi keduanya kemungkinan akan berjalan berdampingan.
QRIS Tap vs QRIS Biasa untuk UMKM
Kalau kamu pemilik UMKM, apakah harus buru-buru beralih ke QRIS Tap?
Belum tentu.
Misalnya warung kopi kecil menerima 30 transaksi QRIS sehari.
QRIS statis sudah sangat cukup.
Pelanggan scan.
Masukkan nominal.
Selesai.
Tidak ada masalah.
Tetapi misalnya kamu mengelola:
supermarket;
event;
food court;
lokasi wisata;
transportasi;
parking system;
merchant dengan antrean transaksi tinggi.
QRIS Tap mulai menarik karena bisa mengurangi langkah pembayaran.
Jadi jangan memilih teknologi karena terlihat baru.
Pilih karena menyelesaikan masalah.
Kalau QRIS biasa sudah cepat, murah, dan efektif, tidak ada alasan memaksakan perubahan.
Apakah QRIS Tap Aman?
QRIS Tap tetap menggunakan standar pembayaran yang diatur dalam ekosistem QRIS.
Transaksi bukan terjadi hanya karena smartphone tidak sengaja berada dekat terminal.
Pengguna tetap membuka aplikasi, memilih fitur, menentukan sumber dana, dan melakukan otorisasi sebelum mendekatkan smartphone ke terminal. (Bank Indonesia)
Artinya ada proses yang dilakukan pengguna sebelum pembayaran.
Walaupun begitu, kebiasaan keamanan digital tetap penting.
Misalnya:
- gunakan PIN yang kuat;
- aktifkan biometric;
- jangan berikan OTP;
- jangan menyerahkan HP dalam kondisi aplikasi pembayaran terbuka;
- cek nominal transaksi;
- cek nama merchant;
- segera blokir akses jika perangkat hilang.
Metode pembayaran bisa berubah.
Prinsip keamanan tetap sama.
Selalu verifikasi sebelum menyetujui transaksi.
Apa Kelebihan QRIS Tap?
Kalau dirangkum, beberapa kelebihan QRIS Tap adalah:
- tidak perlu scan kamera;
- transaksi lebih cepat;
- cocok untuk antrean tinggi;
- mendukung NFC;
- cocok untuk transportasi;
- mendukung Single Tap;
- mendukung Tap In Tap Out;
- tetap berada dalam standar QRIS nasional.
Kelebihan terbesarnya bukan sekadar “lebih modern”.
Tetapi mengurangi friction.
Makin sedikit langkah, makin cepat transaksi selesai.
Untuk satu pembayaran, mungkin selisihnya kecil.
Untuk jutaan transaksi?
Dampaknya besar.
Apa Kekurangan QRIS Tap?
Tentu ada batasan.
Pertama, membutuhkan smartphone NFC.
Tidak semua perangkat punya fitur tersebut.
Kedua, aplikasi pembayaran harus mendukung.
Ketiga, merchant juga membutuhkan terminal atau perangkat kasir yang kompatibel dengan NFC QRIS Tap.
Ini berbeda dengan QRIS biasa yang cukup dicetak di kertas.
Keempat, implementasi masih terus diperluas.
Jadi QRIS Tap belum tentu tersedia di setiap merchant.
Karena itu QRIS biasa tetap sangat penting sebagai metode pembayaran yang lebih universal.
Fakta Menarik: Pengguna QRIS Sudah Lebih dari 65 Juta
Skala QRIS sekarang sudah sangat besar.
Bank Indonesia melaporkan hingga Juni 2026 jumlah pengguna QRIS mencapai 65,77 juta pengguna.
Ada tambahan sekitar 6,23 juta pengguna baru selama Januari sampai Juni 2026.
Jumlah merchant juga mencapai 44,86 juta, dan 96,68% di antaranya adalah UMKM. (Bank Indonesia)
Lebih menarik lagi, sepanjang semester pertama 2026 QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nominal sekitar Rp1,12 kuadriliun.
Nilai transaksinya tumbuh sekitar 93,92% secara tahunan. (Bank Indonesia)
Angka tersebut menunjukkan QRIS sudah jauh melampaui status sebagai metode pembayaran alternatif.
Ia sudah menjadi bagian penting dari sistem pembayaran sehari-hari di Indonesia.
QRIS Tap kemudian hadir bukan untuk mengubah fondasi tersebut.
Tetapi memperluas cara kita mengaksesnya.
Transaksi QRIS Masih Tumbuh Sangat Cepat di 2026
Data Bank Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan QRIS belum melambat.
Pada triwulan II 2026, volume transaksi QRIS tumbuh sekitar 100,12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. (Bank Indonesia)
Ini menarik karena adopsinya sudah besar, tetapi pertumbuhannya masih tinggi.
Artinya kebiasaan pembayaran masyarakat terus bergerak ke digital.
Dulu:
tunai.
Kemudian:
kartu.
Lalu:
scan QR.
Sekarang:
tap smartphone.
Langkah selanjutnya?
Mungkin pengalaman pembayaran akan semakin tidak terasa.
Pengguna tidak lagi memikirkan:
“Saya sedang pakai teknologi pembayaran apa?”
Mereka hanya ingin transaksi selesai.
Perspektif Baru: QRIS Tap Bukan Soal NFC, Tapi Soal Mengurangi Friction
Kalau hanya melihat teknologinya, QRIS Tap bisa terdengar seperti:
“QRIS tapi pakai NFC.”
Selesai.
Tapi menurut saya, perubahan yang lebih menarik justru soal friction.
Setiap transaksi punya langkah kecil:
Ambil HP.
Buka aplikasi.
Cari menu.
Scan.
Masukkan nominal.
Konfirmasi.
Semakin banyak langkah, semakin banyak waktu yang digunakan.
Untuk satu orang?
Mungkin tidak terasa.
Untuk jutaan transaksi?
Perbedaan kecil menjadi sangat besar.
Inilah alasan teknologi pembayaran terus bergerak ke arah:
lebih sedikit klik;
lebih sedikit input;
lebih cepat;
tetap aman.
Jadi keberhasilan QRIS Tap nanti tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih NFC-nya.
Tapi apakah pengguna merasa:
“Ini lebih gampang daripada cara sebelumnya.”
QRIS Tap vs QRIS Biasa: Mana yang Sebaiknya Dipakai?
Jawabannya sederhana.
Gunakan yang tersedia dan paling praktis.
Kalau merchant hanya punya QR code?
Scan QRIS biasa.
Kalau ada terminal QRIS Tap dan HP kamu mendukung NFC?
Tap.
Tidak perlu fanatik terhadap salah satunya.
Bagi pengguna, keduanya cuma dua jalan menuju tujuan yang sama:
pembayaran selesai.
Bagi merchant, pertimbangkan kebutuhan transaksi.
UMKM kecil dengan volume rendah mungkin cukup dengan QRIS biasa.
Merchant besar atau layanan transportasi bisa mendapatkan manfaat lebih besar dari QRIS Tap.
Checklist Sebelum Menggunakan QRIS Tap
Sebelum mencoba, cek beberapa hal:
- Apakah smartphone punya NFC?
- Apakah NFC aktif?
- Apakah aplikasi pembayaran mendukung QRIS Tap?
- Apakah merchant punya terminal QRIS Tap?
- Apakah sumber dana tersedia?
- Apakah nominal transaksi sudah benar?
- Apakah aplikasi sudah diperbarui?
Kalau salah satu komponen belum mendukung, gunakan QRIS scan biasa.
Tidak ada masalah.
QRIS Tap adalah tambahan pilihan.
Bukan kewajiban.
Kesimpulan
Jadi, dalam perbandingan QRIS Tap vs QRIS biasa, perbedaan utamanya ada pada cara bertransaksi.
QRIS biasa menggunakan QR code dan kamera.
Pengguna scan kode, melakukan konfirmasi, lalu menyelesaikan pembayaran.
Metode ini sangat fleksibel, murah untuk merchant, dan sudah digunakan secara luas hingga jutaan UMKM.
QRIS Tap menggunakan teknologi NFC.
Pengguna cukup membuka fitur QRIS Tap, melakukan otorisasi, kemudian mendekatkan smartphone ke terminal pembayaran.
Metode ini sangat menarik untuk transaksi yang membutuhkan kecepatan tinggi seperti ritel, transportasi umum, dan parkir.
Apakah QRIS Tap lebih baik?
Untuk beberapa situasi, iya.
Apakah QRIS biasa akan hilang?
Belum tentu, bahkan kecil kemungkinan dalam waktu dekat karena QR code tetap mempunyai keunggulan besar dari sisi kemudahan implementasi.
Jadi ketika melihat logo QRIS Tap di merchant, tidak perlu bingung.
Kalau HP dan aplikasi mendukung, coba gunakan.
Bandingkan sendiri:
lebih nyaman scan atau tap?
Karena pada akhirnya, inovasi pembayaran terbaik bukan yang paling futuristik.
Yang terbaik adalah yang membuat transaksi terasa semakin cepat, sederhana, dan hampir tidak perlu dipikirkan.