Home › News › E-Commerce dan Bisnis Online
E-Commerce dan Bisnis OnlineMarketplace vs Website: Mana yang Lebih Untung untuk UMKM?
Kalau kamu punya UMKM dan ingin jualan online, pertanyaan ini hampir pasti muncul: Lebih baik fokus jualan di marketplace atau bikin website sendiri? Sekilas marketplace terasa lebih gampang. Tinggal daftar, upload produk, ikut promo, lalu langsung masuk ke ekosistem yang sudah ramai pembeli. Website beda cerita. Kamu harus punya domain, hosting, desain, sistem checkout, metode pembayaran, dan yang paling penting: mendatangkan traffic sendiri. Lalu kalau begitu, kenapa masih banyak bisnis serius yang tetap punya website? Karena marketplace vs website bukan sekadar soal tempat jualan. Keduanya punya model bisnis yang berbeda. Marketplace memberikan akses ke traffic dan kepercayaan yang sudah dibangun platform. Sebagai gantinya, kamu bermain di dalam aturan mereka, bersaing dengan toko lain, dan membayar berbagai biaya transaksi. Website memberikan kontrol lebih besar atas brand, data pelanggan, pengalaman belanja, dan margin. Tetapi kamu harus membangun audience sendiri. Jadi sebenarnya, mana yang lebih untung untuk UMKM? Jawabannya tergantung tahap bisnis dan tujuan kamu. Mari kita bahas pelan-pelan.
Marketplace vs Website: Apa Perbedaan Utamanya?
Bayangkan kamu ingin membuka toko.
Marketplace itu seperti menyewa lapak di pusat perbelanjaan besar.
Sudah ada pengunjung.
Sudah ada kasir.
Sudah ada sistem pembayaran.
Sudah ada promo.
Tapi toko kamu berdiri tepat di samping puluhan kompetitor yang menjual barang serupa.
Website lebih seperti punya toko sendiri.
Kamu bebas menentukan desain, cara pelayanan, tampilan produk, harga, hingga bagaimana pelanggan berinteraksi dengan brand.
Masalahnya, jalan di depan toko belum tentu ramai.
Kamu sendiri yang harus mendatangkan pengunjung melalui:
- Google;
- Instagram;
- TikTok;
- iklan;
- email;
- WhatsApp;
- SEO;
- komunitas.
Perbedaan inilah yang membuat marketplace dan website tidak bisa dinilai hanya dari satu faktor.
Marketplace kuat di traffic dan kemudahan.
Website kuat di kontrol dan kepemilikan aset digital.
Marketplace Unggul Kalau UMKM Ingin Cepat Mulai Jualan
Kalau bisnis baru mulai, marketplace memang sulit dikalahkan.
Kamu tidak perlu membangun sistem checkout.
Tidak perlu mencari payment gateway.
Tidak perlu membuat fitur tracking order.
Platform sudah menyediakan semuanya.
Lebih penting lagi, calon pelanggan sudah terbiasa berbelanja di sana.
Menurut Think with Google, sekitar 82% pembelian e-commerce di Asia Tenggara terjadi melalui marketplace berdasarkan estimasi Momentum Works yang dikutip Google. (Think with Google)
Angka ini menjelaskan kenapa marketplace masih sangat kuat.
Pelanggan datang dengan niat belanja.
Misalnya kamu menjual tote bag.
Di website pribadi, orang harus tahu brand kamu dulu.
Di marketplace, mereka cukup mengetik:
“tote bag kanvas wanita”
Produk kamu punya peluang ikut muncul di antara hasil pencarian.
Bagi UMKM baru, akses seperti ini sangat berharga.
Marketplace Membantu Membangun Kepercayaan Lebih Cepat
Ada tantangan besar ketika menjual lewat website baru:
Apakah pelanggan percaya?
Bayangkan seseorang menemukan toko yang belum pernah ia dengar.
Website-nya baru.
Tidak ada review.
Kemudian diminta transfer Rp700 ribu.
Wajar kalau ragu.
Marketplace membantu mengurangi kekhawatiran tersebut.
Pelanggan sudah familiar dengan platform.
Ada sistem pembayaran.
Ada rating.
Ada review.
Ada status pengiriman.
Ada perlindungan transaksi.
Jadi trust tidak perlu dibangun seluruhnya dari nol.
Bagi produk dengan harga rendah sampai menengah, keuntungan ini bisa sangat besar.
Itulah kenapa marketplace sangat bagus sebagai channel akuisisi pelanggan pertama.
Tapi Marketplace Tidak Benar-Benar Gratis
Ada satu kesalahan yang cukup sering muncul:
“Jualan marketplace kan gratis.”
Buka toko memang bisa gratis.
Tetapi setiap transaksi belum tentu gratis.
Contohnya Shopee.
Dalam ketentuan yang berlaku pada 2026, Shopee menerapkan biaya administrasi penjual berdasarkan kategori produk yang bisa berada pada kisaran 2,5% hingga 10%. Shopee juga mengenakan biaya proses pesanan sebesar Rp1.250 per transaksi selesai, dengan aturan tertentu untuk penjual baru dan program tertentu.
Belum lagi kalau ikut:
- program gratis ongkir;
- promo platform;
- voucher;
- affiliate;
- iklan;
- campaign;
- layanan tambahan.
Biaya total bisa bertambah.
Jadi seller perlu benar-benar menghitung margin.
Jangan hanya melihat:
“Harga jual Rp100 ribu, modal Rp70 ribu, berarti untung Rp30 ribu.”
Hitung juga semua fee.
Karena di marketplace, omzet tinggi belum tentu margin tinggi.
Marketplace vs Website dari Sisi Margin
Nah, sekarang website mulai terlihat menarik.
Kalau transaksi terjadi melalui website sendiri, kamu tidak membayar komisi marketplace untuk setiap produk.
Tetap ada biaya.
Misalnya:
hosting;
domain;
payment gateway;
iklan;
maintenance.
Tetapi model biayanya berbeda.
Bayangkan kamu menjual produk Rp200 ribu.
Margin sebelum biaya platform adalah Rp50 ribu.
Kalau marketplace mengambil beberapa persen ditambah biaya transaksi dan program lain, margin bersih berkurang.
Di website, kamu mungkin hanya membayar payment gateway beberapa persen atau biaya tetap tertentu.
Semakin besar volume transaksi, selisih kecil tersebut bisa berubah menjadi angka besar.
Contoh sederhana:
10.000 transaksi × penghematan Rp5.000 = Rp50 juta.
Tetapi tentu saja ada satu syarat.
Kamu harus mampu mendatangkan pembeli ke website.
Kalau biaya iklannya justru lebih mahal, perhitungannya berubah lagi.
Website Memberikan Kontrol Penuh atas Brand
Coba lihat toko di marketplace.
Strukturnya hampir sama.
Logo.
Banner.
Produk.
Harga.
Rating.
Toko kamu bersaing dalam format yang mirip dengan semua toko lain.
Website memberi ruang jauh lebih besar untuk membangun identitas.
Kamu bebas menentukan:
warna;
tipografi;
storytelling;
foto;
video;
landing page;
bundling;
upselling;
alur checkout.
Misalnya kamu punya brand skincare.
Di marketplace, calon pelanggan mungkin hanya melihat:
serum A Rp89 ribu.
Di website, kamu bisa membuat pengalaman lebih lengkap.
Jelaskan:
masalah kulit;
ingredient;
cara penggunaan;
before-after;
review;
FAQ;
paket bundling;
quiz pemilihan produk.
Sekarang kamu tidak hanya menjual barang.
Kamu membangun brand experience.
Ini sangat penting kalau produk tidak ingin terus bersaing berdasarkan harga.
Marketplace Mendorong Perang Harga
Ini salah satu sisi yang cukup berat.
Pengguna marketplace sangat mudah membandingkan produk.
Produk A Rp100 ribu.
Geser sedikit.
Produk serupa Rp89 ribu.
Di bawahnya Rp79 ribu.
Lalu ada yang Rp69 ribu plus gratis ongkir.
Apa yang terjadi?
Harga menjadi faktor keputusan yang sangat besar.
Tentu tidak semua kategori sama.
Brand kuat tetap bisa mempertahankan harga.
Tetapi untuk produk generik, marketplace cenderung meningkatkan tekanan harga.
Website memberi kesempatan untuk mengubah fokus pembeli.
Bukan hanya:
“Berapa harga produk ini?”
Tetapi:
“Kenapa produk ini berbeda?”
Melalui content, storytelling, video, case study, dan pengalaman brand, kamu bisa menjual nilai.
Bukan hanya harga.
Website Membuat UMKM Punya Data Pelanggan
Ini salah satu perbedaan paling penting.
Kalau pembeli bertransaksi melalui marketplace, hubungan pelanggan banyak terjadi di dalam platform tersebut.
Data dan kemampuan retargeting berada dalam batas aturan platform.
Dengan website sendiri, bisnis punya lebih banyak kontrol terhadap first-party data.
Misalnya:
email;
riwayat pembelian;
produk favorit;
abandoned cart;
perilaku halaman;
customer segment.
Dari data tersebut bisnis bisa membuat:
- email marketing;
- personalized offer;
- loyalty program;
- reminder;
- cross-selling;
- retargeting.
Bayangkan seorang pelanggan membeli kopi 500 gram setiap bulan.
Dengan sistem sendiri, kamu bisa mengirim reminder:
“Stok kopi bulan ini hampir habis? Pesan ulang dengan diskon pelanggan lama.”
Hubungan seperti ini meningkatkan customer lifetime value.
Dan di sinilah website mulai berubah dari sekadar tempat checkout menjadi aset bisnis.
Marketplace vs Website dari Sisi Traffic
Kalau bicara traffic awal, marketplace jelas unggul.
Platform sudah punya jutaan pengguna.
Website baru?
Mungkin pengunjungnya hanya kamu, developer, dan teman yang diminta mengecek tampilannya.
Traffic harus dibangun.
Caranya bisa melalui:
SEO;
Google Ads;
Meta Ads;
TikTok;
creator;
email;
WhatsApp.
Memang lebih sulit.
Tetapi ada perbedaan penting.
Traffic marketplace adalah traffic yang kamu pinjam.
Traffic website bisa menjadi audience yang kamu bangun.
Misalnya artikel website kamu ranking di Google:
“Cara memilih sepatu lari untuk pemula.”
Artikel tersebut bisa mendatangkan pengunjung setiap bulan.
Pengunjung membaca.
Kemudian diarahkan ke produk.
Sekarang bisnis punya channel traffic yang tidak seluruhnya bergantung pada marketplace.
Fakta Menarik: Pasar Digital Indonesia Sudah Sangat Besar
UMKM yang masuk ke digital bukan sedang mengejar pasar kecil.
Menurut laporan Digital 2026 Indonesia, terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, setara dengan penetrasi internet sekitar 80,5% populasi.
Sementara laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain memperkirakan ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar GMV pada 2025, dengan sektor e-commerce sekitar US$71 miliar.
Artinya, peluang online memang besar.
Tetapi cara konsumen menemukan dan membeli produk juga semakin beragam.
Marketplace.
Search.
Social commerce.
Video commerce.
Website.
Semuanya saling berhubungan.
Karena itu pertanyaan modern bukan lagi:
“Marketplace atau website?”
Lebih tepat:
“Apa peran masing-masing channel dalam perjalanan pelanggan?”
Marketplace vs Website: Mana yang Lebih Cocok untuk UMKM Baru?
Kalau kamu baru memulai bisnis, marketplace biasanya lebih realistis.
Kenapa?
Karena kamu perlu validasi.
Apakah produk laku?
Apakah harga cocok?
Produk mana paling banyak dicari?
Apa pertanyaan pelanggan?
Belum perlu membuat sistem mahal.
Mulai dengan marketplace.
Upload produk.
Dapatkan transaksi.
Kumpulkan review.
Pelajari pelanggan.
Setelah produk mulai terbukti, website bisa ditambahkan sebagai channel berikutnya.
Ini jauh lebih aman daripada menghabiskan Rp20 juta membuat ecommerce lengkap untuk produk yang ternyata belum punya demand.
Website Cocok Ketika Brand Mulai Bertumbuh
Ada titik ketika marketplace saja mulai terasa membatasi.
Misalnya bisnis sudah punya:
ribuan followers;
repeat customer;
brand recognition;
konten rutin;
traffic dari Google;
produk eksklusif.
Pada tahap ini, website semakin masuk akal.
Pelanggan sudah punya alasan untuk datang langsung.
Website bisa digunakan untuk:
produk eksklusif;
membership;
bundling;
subscription;
pre-order;
launching produk;
loyalty program.
Sekarang bisnis mulai mengurangi ketergantungan pada platform pihak ketiga.
Bukan berarti marketplace ditinggalkan.
Keduanya berjalan bersama.
Contoh Kasus: UMKM Fashion yang Awalnya Hanya Marketplace
Bayangkan brand fashion kecil bernama LokaWear.
Saat baru mulai, mereka menjual tote bag dan kaos melalui marketplace.
Harga produk Rp129 ribu.
Marketplace membantu mendapatkan transaksi pertama.
Review mulai terkumpul.
Order naik.
Instagram juga mulai berkembang.
Setahun kemudian LokaWear sudah punya 50 ribu followers.
Masalah baru muncul.
Setiap launching produk, pelanggan mencari toko mereka melalui marketplace.
Di sana pelanggan ikut melihat rekomendasi produk kompetitor.
Selain itu, biaya platform mulai terasa karena volume transaksi meningkat.
Mereka kemudian membuat website.
Bukan untuk menutup toko marketplace.
Tetapi untuk membagi fungsi.
Marketplace tetap menjadi tempat discovery dan pelanggan baru.
Website digunakan untuk:
koleksi eksklusif;
bundling;
early access;
loyalty;
database pelanggan.
Akhirnya mereka punya dua mesin.
Marketplace untuk reach.
Website untuk relationship.
Menurut saya, model seperti ini jauh lebih sehat daripada memaksa memilih salah satu.
Marketplace dan Website Bisa Digunakan Bersamaan
Ini bagian terpenting.
Tidak ada aturan:
Kalau punya website harus keluar marketplace.
Atau:
Kalau sudah laris di marketplace tidak perlu website.
Justru strategi omnichannel bisa lebih efektif.
Think with Google juga menyoroti bahwa retailer yang berkembang tidak hanya berhenti di marketplace, tetapi memperluas jangkauan melalui channel lain untuk mendukung performa penjualan secara keseluruhan.
Contohnya:
TikTok → discovery.
Google → research.
Website → edukasi dan branding.
Marketplace → transaksi bagi pelanggan yang suka convenience.
WhatsApp → customer service.
Email → repeat order.
Sekarang setiap channel punya fungsi.
Bisnis tidak bertaruh semuanya pada satu platform.
Kelebihan Marketplace untuk UMKM
Kalau dirangkum, marketplace unggul dalam:
- traffic besar;
- setup cepat;
- trust pelanggan;
- sistem pembayaran;
- logistik;
- review;
- promo;
- affiliate;
- campaign.
Ini cocok untuk bisnis yang ingin cepat menjual tanpa membangun infrastruktur digital sendiri.
Terutama kalau produknya mudah dicari berdasarkan kategori.
Misalnya:
aksesoris;
fashion;
elektronik;
household;
beauty;
makanan kemasan.
Marketplace sangat kuat.
Kekurangan Marketplace untuk UMKM
Tapi ada trade-off.
Kekurangannya meliputi:
- biaya transaksi;
- kompetisi langsung;
- perang harga;
- ketergantungan aturan platform;
- keterbatasan branding;
- kontrol data pelanggan terbatas;
- perubahan algoritma;
- promo yang memengaruhi margin.
Hal terakhir penting.
Marketplace dapat mengubah struktur fee.
Contohnya pada Shopee, biaya administrasi penjual di 2026 berbeda berdasarkan kategori dan dapat berubah sesuai kebijakan platform.
Kalau margin bisnis tipis, perubahan beberapa persen bisa terasa besar.
Kelebihan Website untuk UMKM
Website memberikan:
- kontrol brand;
- kontrol UX;
- database pelanggan;
- SEO;
- fleksibilitas harga;
- membership;
- loyalty;
- custom promotion;
- integrasi;
- biaya transaksi yang lebih terkontrol.
Website juga membantu kredibilitas.
Bayangkan ada dua supplier.
Supplier A hanya punya akun marketplace.
Supplier B punya website profesional, alamat, portfolio, testimoni, katalog, dan company profile.
Untuk transaksi B2B bernilai puluhan juta, website bisa memberikan trust tambahan.
Terutama untuk bisnis:
jasa;
B2B;
manufaktur;
konsultan;
supplier;
produk premium.
Kekurangan Website untuk UMKM
Website bukan solusi ajaib.
Kekurangannya:
- ada biaya pembuatan;
- hosting dan domain;
- maintenance;
- harus mendatangkan traffic;
- keamanan;
- payment integration;
- optimasi conversion.
Punya website tidak berarti otomatis ada pembeli.
Ini kesalahan besar.
Ada bisnis membayar Rp10 juta membuat ecommerce.
Setelah live, mereka menunggu.
Seminggu.
Tidak ada order.
Kemudian berkata:
“Website nggak efektif.”
Masalahnya bukan websitenya.
Tidak ada traffic.
Website adalah toko.
Marketing adalah jalan menuju toko.
Keduanya harus berjalan bersama.
Mana yang Lebih Murah?
Untuk memulai?
Marketplace.
Hampir pasti.
Kamu tidak perlu investasi besar di awal.
Tetapi dalam jangka panjang?
Jawabannya tergantung volume dan margin.
Misalnya website menghabiskan:
Rp5 juta development.
Rp1 juta hosting/domain per tahun.
Total tahun pertama Rp6 juta.
Kalau marketplace menghabiskan rata-rata Rp8 ribu fee tambahan per transaksi dan bisnis melakukan 10.000 transaksi:
Rp8.000 × 10.000 = Rp80 juta.
Tentu angka ini hanya ilustrasi sederhana.
Actual fee bisa berbeda berdasarkan platform, kategori, promo, payment, dan marketing.
Tetapi contoh ini menunjukkan mengapa semakin besar bisnis, semakin penting menghitung unit economics per channel.
Jangan hanya lihat omzet.
Lihat profit.
Marketplace vs Website: Mana yang Lebih Untung?
Kalau harus disederhanakan:
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jadi pemenangnya?
Tergantung tahap bisnis.
Marketplace memenangkan kecepatan.
Website memenangkan kontrol.
Perspektif Baru: Marketplace Itu Channel, Website Itu Aset
Menurut saya, ini cara paling mudah memahami perbedaannya.
Marketplace adalah channel penjualan.
Website adalah aset bisnis.
Channel bisa sangat kuat.
Tetapi platformnya bukan milik kita.
Aturan bisa berubah.
Fee bisa berubah.
Algoritma bisa berubah.
Program promo bisa berubah.
Website juga bergantung pada Google, social media, payment gateway, dan layanan lain.
Tetapi kita punya kontrol jauh lebih besar terhadap sistemnya.
Data bisa di-export.
Desain bisa diganti.
Provider hosting bisa pindah.
Marketing channel bisa berganti.
Karena itu bisnis yang ingin tumbuh besar biasanya tidak nyaman menggantungkan seluruh penjualan pada satu platform.
Diversifikasi channel bukan cuma strategi marketing.
Itu juga strategi risiko.
Strategi yang Lebih Masuk Akal untuk UMKM
Daripada langsung membangun semuanya, gunakan tahap.
Tahap 1 – Validasi
Gunakan marketplace dan social media.
Cari produk yang benar-benar laku.
Tahap 2 – Bangun Brand
Aktifkan Instagram, TikTok, content marketing, dan Google Business Profile jika bisnis lokal.
Tahap 3 – Buat Website
Mulai dengan company profile atau katalog.
Tidak harus langsung ecommerce kompleks.
Tahap 4 – Direct Selling
Tambahkan checkout, payment gateway, SEO, dan email marketing.
Tahap 5 – Omnichannel
Marketplace dan website bekerja bersama.
Dengan cara ini, investasi mengikuti pertumbuhan bisnis.
Tidak perlu membangun sistem besar sebelum dibutuhkan.
Checklist Menentukan Marketplace atau Website
Coba jawab:
- Apakah bisnis baru mulai?
- Apakah produk sudah tervalidasi?
- Apakah sudah punya audience?
- Apakah repeat order tinggi?
- Berapa margin produk?
- Berapa persen biaya marketplace?
- Apakah brand penting?
- Apakah perlu database pelanggan?
- Apakah pelanggan sering mencari brand langsung?
- Apakah bisnis punya budget marketing?
Kalau masih:
“Baru mulai, audience belum ada, ingin cepat transaksi.”
Marketplace dulu.
Kalau:
“Brand sudah dikenal, customer repeat banyak, margin mulai tertekan.”
Website mulai menarik.
Fakta Menarik: Konsumen Tidak Belanja di Satu Channel Saja
Perilaku online sekarang makin terfragmentasi.
Di Asia Tenggara, marketplace masih sangat dominan. Tetapi video commerce juga berkembang pesat. Google mencatat video commerce sudah menyumbang sekitar 20% GMV e-commerce kawasan pada 2024, naik lebih dari empat kali lipat dibanding 2022.
Sementara event marketplace seperti 10.10 dan 11.11 juga masih kuat. Google melaporkan 81% online shoppers di Asia Tenggara membeli sesuatu saat double-date event pada 2024, naik dari 74% pada tahun sebelumnya.
Artinya pelanggan bisa:
melihat produk di TikTok;
mencari review di Google;
membuka website brand;
lalu checkout di marketplace.
Perjalanan pembelian tidak linear.
Jadi bisnis sebaiknya hadir di beberapa titik penting.
Kesimpulan
Jadi dalam debat Marketplace vs Website: mana yang lebih untung untuk UMKM?, tidak ada satu jawaban untuk semua bisnis.
Marketplace lebih unggul untuk memulai.
Traffic sudah ada.
Trust sudah ada.
Sistem transaksi siap.
Kamu bisa fokus pada produk dan pelayanan.
Tetapi semakin besar bisnis, kamu akan mulai merasakan keterbatasan dari sisi fee, branding, kompetisi, dan kontrol pelanggan.
Website membutuhkan investasi lebih besar di awal.
Traffic juga harus dibangun.
Namun sebagai gantinya, bisnis mendapatkan kontrol lebih besar terhadap brand, data pelanggan, pengalaman belanja, serta strategi jangka panjang.
Karena itu, jangan melihat marketplace dan website sebagai musuh.
Gunakan keduanya.
Marketplace untuk menemukan pelanggan baru.
Website untuk membuat pelanggan mengenal dan kembali ke brand kamu.
Kalau kamu punya UMKM sekarang, lakukan satu hal sederhana.
Buka laporan transaksi marketplace selama tiga bulan terakhir.
Hitung:
omzet;
semua fee;
iklan;
promo;
margin bersih;
repeat order.
Kemudian tanyakan:
“Kalau 20% repeat customer ini bertransaksi langsung melalui channel milik sendiri, apakah bisnis menjadi lebih sehat?”
Kalau jawabannya iya, mungkin sudah waktunya mulai membangun website.
Bukan untuk meninggalkan marketplace.
Tetapi supaya bisnis punya rumah digital sendiri dan tidak selamanya hanya menyewa lapak di rumah orang lain.