Nastech Logo Nastech

Home News Keamanan Cyber dan Privasi Data

Keamanan Cyber dan Privasi Data

Cara Mengamankan WhatsApp dari Penyadapan dan Pembajakan

Cara Mengamankan WhatsApp dari Penyadapan dan Pembajakan

Pernah tiba-tiba mendapat notifikasi kode OTP WhatsApp padahal kamu tidak sedang login? Atau menemukan perangkat asing di menu Perangkat Tertaut? Kalau iya, jangan dianggap sepele. WhatsApp memang sudah menggunakan end-to-end encryption secara default untuk pesan dan panggilan pribadi. Artinya isi percakapan hanya bisa dibaca oleh kamu dan orang yang diajak berkomunikasi, bahkan WhatsApp sendiri tidak bisa membacanya. Tapi keamanan enkripsi tidak otomatis membuat akun kebal dari pembajakan. Masalah paling sering justru datang dari sisi pengguna: OTP diberikan ke orang lain, perangkat tertaut tidak diperiksa, akun memakai perlindungan yang lemah, atau smartphone terinfeksi aplikasi berbahaya. Karena itu, cara mengamankan WhatsApp dari penyadapan dan pembajakan bukan sekadar mengaktifkan satu fitur. Kita perlu mengamankan akun, perangkat, backup, dan kebiasaan penggunaan sekaligus. Berikut langkah-langkah yang paling penting.

 

1. Cara Mengamankan WhatsApp dengan Verifikasi Dua Langkah

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah mengaktifkan verifikasi dua langkah.

Fitur ini menambahkan perlindungan tambahan ketika seseorang mencoba mendaftarkan akun WhatsApp kamu di perangkat lain. WhatsApp pada 2026 juga sedang meningkatkan sistem verifikasi dua langkah dari PIN enam digit menuju mekanisme kata sandi pada pengguna tertentu.

Untuk mengaktifkannya, buka:

WhatsApp → Settings/Pengaturan → Account/Akun → Two-step verification/Verifikasi dua langkah

Kemudian ikuti instruksi yang tersedia.

Jangan gunakan kombinasi yang mudah ditebak seperti tanggal lahir, 123456, atau angka yang sama dengan PIN ATM.

Tambahkan juga alamat email pemulihan jika tersedia. WhatsApp menyebut email sebagai salah satu lapisan keamanan tambahan yang dapat membantu proses pemulihan akun ketika pengguna tidak dapat menerima SMS atau panggilan telepon.

2. Jangan Pernah Memberikan OTP WhatsApp kepada Siapa Pun

Banyak kasus akun WhatsApp dibajak bukan karena hacker menembus enkripsi.

Korban sendiri yang memberikan kode verifikasi.

Modusnya bisa bermacam-macam:

“Maaf kode saya salah masuk ke nomor Anda.”

“Anda memenangkan hadiah, sebutkan kode verifikasi.”

“Saya dari customer service, kirim kode yang baru masuk.”

Begitu korban memberikan OTP, pelaku mencoba mendaftarkan nomor tersebut ke perangkatnya.

WhatsApp sekarang membatasi tampilan one-time passcode pada perangkat utama. Kalau akun punya linked device, perangkat tertaut hanya mendapat pemberitahuan bahwa kode telah diterima, tetapi kode sebenarnya tetap muncul di ponsel utama.

Aturannya sederhana:

kode OTP adalah rahasia.

WhatsApp, bank, marketplace, teman, bahkan keluarga tidak membutuhkan OTP yang dikirim khusus untuk autentikasi akun kamu.

Kalau seseorang meminta OTP, anggap itu sebagai tanda bahaya.

3. Periksa Perangkat Tertaut Secara Rutin

Salah satu cara orang lain bisa membaca percakapan adalah melalui Linked Devices atau Perangkat Tertaut.

WhatsApp memungkinkan satu akun ditautkan ke beberapa perangkat tambahan. Saat ini pengguna bisa menautkan hingga empat perangkat pendamping tanpa harus membuat ponsel utama terus terhubung ke internet.

Fitur ini sangat berguna.

Kita bisa membuka WhatsApp di laptop kantor, desktop rumah, atau perangkat lain.

Masalahnya muncul kalau ada perangkat yang tidak kita kenal.

Buka:

WhatsApp → Settings/Pengaturan → Linked Devices/Perangkat Tertaut

Periksa semuanya.

Kalau melihat browser, komputer, atau perangkat yang tidak kamu kenali, langsung logout.

Kebiasaan sederhana ini penting terutama kalau kamu pernah login WhatsApp Web menggunakan komputer bersama, komputer kantor, warnet, atau laptop orang lain.

Jangan berpikir:

“Kan browser-nya sudah ditutup.”

Menutup tab tidak selalu berarti sesi akun sudah keluar.

4. Gunakan Passkey agar Akun Lebih Sulit Dibajak

Kalau perangkatmu mendukung, aktifkan passkey.

Passkey menggunakan sistem keamanan perangkat seperti:

  • sidik jari;
  • Face ID;
  • pengenalan wajah;
  • PIN atau screen lock.

Berbeda dengan password atau SMS OTP tradisional, passkey menggunakan autentikasi berbasis kriptografi yang terhubung dengan perangkat pengguna. WhatsApp menjelaskan bahwa hanya orang yang memiliki perangkat fisik dan autentikasi biometrik atau layar kunci yang bisa menggunakan passkey tersebut.

Di Android, menu umumnya berada di:

WhatsApp → Settings → Account → Passkeys → Create passkey

Fitur dan tampilannya bisa sedikit berbeda berdasarkan versi aplikasi maupun sistem operasi.

Kenapa passkey menarik?

Karena serangan phishing jauh lebih sulit dilakukan jika login membutuhkan autentikasi yang tersimpan di perangkat, bukan sekadar sebuah kode yang bisa diketik dan dikirim ke orang lain.

5. Kunci Aplikasi WhatsApp dengan Sidik Jari atau Face ID

Bayangkan HP kamu tertinggal di meja.

Screen lock memang aktif.

Tapi bagaimana kalau seseorang sudah mengetahui PIN smartphone?

Lapisan keamanan tambahan masih berguna.

WhatsApp menyediakan app lock sehingga aplikasi hanya dapat dibuka menggunakan Face ID, Touch ID, fingerprint, atau metode autentikasi perangkat yang tersedia.

Aktifkan melalui pengaturan Privacy sesuai sistem operasi yang digunakan.

Fitur ini terutama berguna untuk orang yang sering:

meminjamkan HP;

menggunakan perangkat bersama;

menaruh HP di tempat kerja;

mempunyai percakapan sensitif.

Security yang bagus biasanya tidak bergantung pada satu tembok.

Gunakan beberapa lapisan.

Kalau satu lapisan gagal, masih ada perlindungan berikutnya.

6. Aktifkan Backup WhatsApp yang Terenkripsi End-to-End

Pesan WhatsApp memang terenkripsi end-to-end.

Tapi bagaimana dengan backup?

Kalau kamu menyimpan riwayat chat di Google Drive atau iCloud, aktifkan end-to-end encrypted backup.

WhatsApp memungkinkan backup diamankan menggunakan password, encryption key 64 digit, atau passkey pada perangkat yang mendukung. Dengan fitur ini, perlindungan end-to-end juga diterapkan pada backup yang tersimpan di cloud.

Buka:

Settings → Chats → Chat Backup → End-to-end encrypted backup

Kemudian aktifkan.

Pada 2025, WhatsApp juga memperkenalkan backup terenkripsi menggunakan passkey sehingga pengguna bisa melindungi backup melalui sidik jari, wajah, atau screen lock tanpa harus selalu mengingat password panjang atau encryption key.

Tapi ada satu hal penting.

Kalau menggunakan password atau encryption key, simpan dengan benar.

Jangan sampai keamanan terlalu ketat tetapi akhirnya kamu sendiri tidak bisa memulihkan backup.

7. Cara Mengamankan WhatsApp dari Penyadapan lewat Malware

Kadang masalahnya bukan akun WhatsApp.

Smartphone-nya yang sudah terinfeksi malware.

Aplikasi berbahaya bisa mencoba mencuri informasi, memonitor perangkat, atau menyalahgunakan permission.

WhatsApp menyarankan pengguna Android tetap mengaktifkan Google Play Protect, tidak menggunakan perangkat yang di-root, menghapus aplikasi tidak terpercaya, dan menghindari file maupun link mencurigakan. WhatsApp juga memperingatkan pengguna untuk tidak menggunakan aplikasi WhatsApp tidak resmi.

Jadi hindari aplikasi seperti:

“WhatsApp MOD unlimited.”

“Baca pesan yang sudah dihapus.”

“Lihat siapa yang stalking profil.”

“Sadap WhatsApp pasangan.”

Aplikasi seperti itu justru bisa meminta akses sangat luas ke perangkat.

Kalau sebuah aplikasi meminta izin:

SMS;

Accessibility;

Notification;

Contacts;

Microphone;

Storage;

semuanya sekaligus tanpa alasan yang jelas, kamu perlu curiga.

Instal aplikasi hanya dari sumber resmi seperti Google Play Store atau Apple App Store.

8. Selalu Update WhatsApp dan Sistem Operasi

Update aplikasi kadang terasa mengganggu.

Ada notifikasi.

Download.

Restart.

Tapi update bukan hanya membawa emoji atau tampilan baru.

Security patch juga masuk melalui update.

WhatsApp pada Juni 2026 kembali mengingatkan pengguna untuk menjaga aplikasi dan perangkat tetap diperbarui sebagai salah satu perlindungan terhadap ancaman spyware dan eksploitasi keamanan.

Hal yang perlu diperbarui:

  • WhatsApp;
  • Android/iOS;
  • browser;
  • WhatsApp Desktop;
  • aplikasi pendukung.

Kalau ada kerentanan keamanan dan vendor sudah memperbaikinya, manfaat patch tersebut baru kamu dapatkan setelah update.

Menunda berbulan-bulan berarti tetap menggunakan versi dengan kelemahan lama.

9. Waspadai Link dan File Mencurigakan

Pembajakan akun juga sering dimulai dari phishing.

Pesannya mungkin terlihat seperti:

“Undangan nikah.”

“Paket Anda tertahan.”

“Lihat foto ini.”

“Surat tilang elektronik.”

“APK undangan.”

Begitu file atau link dibuka, pengguna diarahkan ke halaman palsu atau memasang aplikasi berbahaya.

WhatsApp menyarankan pengguna memeriksa link dengan hati-hati dan hanya membuka file jika benar-benar mempercayai pengirimnya.

Bahkan kalau pesan datang dari teman, tetap hati-hati.

Kenapa?

Karena akun teman tersebut bisa saja sudah dibajak.

Kalau tiba-tiba sahabat yang biasanya ngobrol santai mengirim:

“Tolong install APK ini sekarang.”

Telepon dulu.

Verifikasi melalui channel lain.

Lima belas detik mengecek jauh lebih murah daripada memulihkan akun setelah diretas.

10. Aktifkan Strict Account Settings Jika Berisiko Tinggi

Pada Januari 2026, WhatsApp meluncurkan Strict Account Settings, fitur keamanan tingkat tinggi yang dibuat untuk orang yang berpotensi menjadi target serangan siber canggih.

Contohnya:

jurnalis;

aktivis;

pejabat;

public figure;

atau individu yang menghadapi ancaman khusus.

Ketika diaktifkan, fitur ini mengubah beberapa setting ke mode yang lebih ketat. Misalnya membatasi attachment dari pengirim tidak dikenal, membisukan panggilan dari nomor asing, memperketat visibilitas profil, menyalakan verifikasi dua langkah, dan membatasi siapa yang dapat menambahkan pengguna ke grup.

Menu tersedia melalui:

WhatsApp Settings → Privacy → Advanced → Strict Account Settings

Namun WhatsApp sendiri menjelaskan fitur tersebut dirancang untuk sebagian kecil pengguna yang menghadapi ancaman siber tingkat tinggi.

Untuk kebanyakan orang, pengaturan keamanan standar sudah cukup jika digunakan dengan benar.

Cara Mengecek Apakah WhatsApp Sedang Disadap atau Dibajak

Tidak semua gejala aneh berarti akun sedang disadap.

Tapi ada beberapa tanda yang layak diperiksa:

  • muncul perangkat tertaut yang tidak dikenal;
  • menerima OTP tanpa meminta;
  • akun tiba-tiba logout;
  • kontak menerima pesan yang tidak pernah kamu kirim;
  • setting keamanan berubah;
  • ada aktivitas aneh pada perangkat;
  • muncul aplikasi asing;
  • penggunaan baterai atau data berubah drastis tanpa alasan jelas.

Jangan langsung panik kalau satu gejala muncul.

Misalnya menerima OTP bisa berarti seseorang salah mengetik nomor.

Tapi kalau muncul bersamaan dengan perangkat tertaut asing, itu jauh lebih serius.

Periksa dari data yang nyata.

Menu Linked Devices adalah tempat pertama yang sebaiknya dicek.

Contoh Kasus: “Kodenya Salah Masuk ke Nomor Kamu”

Bayangkan seorang pengguna bernama Rina mendapat WhatsApp dari nomor kenalan.

Pesannya:

“Rin, aku tadi salah masukin nomor. Kode enam digit yang masuk ke kamu kirim dong.”

Beberapa detik kemudian benar-benar masuk kode dari WhatsApp.

Karena pengirim menggunakan foto teman, Rina hampir percaya.

Untungnya ia menelepon temannya langsung.

Ternyata akun teman tersebut sudah dibajak.

Pelaku menggunakan akun korban pertama untuk mencari korban berikutnya.

Kalau Rina memberikan kode, pelaku bisa mencoba mengambil alih akunnya juga.

Kasus seperti ini menunjukkan sesuatu yang penting:

serangan keamanan sering menyerang manusia, bukan teknologi.

End-to-end encryption bisa sangat kuat.

Tapi kalau pengguna menyerahkan kunci masuk sendiri, enkripsi tidak bisa membantu.

WhatsApp Dienkripsi, Kok Masih Bisa “Disadap”?

Ini pertanyaan yang sangat bagus.

WhatsApp menggunakan enkripsi end-to-end untuk pesan dan panggilan. Artinya pihak di tengah jaringan tidak bisa begitu saja membaca isi pesan.

Tapi bayangkan sebuah rumah dengan brankas sangat kuat.

Pelaku tidak perlu membobol brankas kalau ia berhasil:

mencuri kunci rumah;

mendapat akses ke HP;

menautkan perangkat baru;

mengelabui pemilik memberikan OTP;

atau memasang malware di perangkat.

Jadi istilah “penyadapan WhatsApp” yang sering digunakan masyarakat sebenarnya bisa merujuk pada banyak skenario berbeda.

Tidak semuanya berarti enkripsi WhatsApp berhasil ditembus.

Sering kali endpoint—yaitu HP pengguna—yang justru bermasalah.

Verifikasi Encryption Code untuk Percakapan Sensitif

Untuk percakapan yang sangat sensitif, WhatsApp memungkinkan pengguna memverifikasi security code end-to-end encryption.

Buka chat.

Tekan nama kontak.

Pilih Encryption.

WhatsApp dapat melakukan verifikasi otomatis dan juga menyediakan QR code atau nomor 60 digit yang bisa dibandingkan secara manual.

Kalau kamu dan kontak berada di tempat yang sama, QR code bisa dipindai.

Tujuannya memastikan kamu benar-benar berkomunikasi dengan perangkat milik kontak yang dimaksud.

Untuk percakapan biasa dengan teman, pengguna mungkin tidak perlu melakukan ini setiap hari.

Tetapi untuk komunikasi sensitif, fitur tersebut memberikan lapisan verifikasi tambahan.

Fakta Menarik: WhatsApp Menambah Mode “Lockdown” pada 2026

Salah satu perkembangan keamanan WhatsApp paling menarik pada 2026 adalah hadirnya Strict Account Settings.

Ini menunjukkan bagaimana ancaman terhadap aplikasi pesan mulai terbagi dua.

Ada ancaman umum:

phishing;

OTP scam;

akun dibajak;

malware sederhana.

Lalu ada ancaman tingkat tinggi:

spyware;

zero-day;

targeted cyber attack.

WhatsApp bahkan pada Juni 2026 mengumumkan dukungan tambahan terhadap organisasi riset yang menyelidiki industri spyware serta kembali menyarankan pengguna berisiko tinggi mengaktifkan Strict Account Settings.

Artinya keamanan digital sekarang bukan cuma pertanyaan:

“Apakah aplikasinya terenkripsi?”

Pertanyaannya juga:

“Seberapa aman perangkat dan perilaku penggunanya?”

Apa yang Harus Dilakukan Kalau WhatsApp Sudah Dibajak?

Kalau kamu merasa akun sudah diambil alih, bertindak cepat.

Langkah utamanya:

  1. Coba daftar ulang nomor WhatsApp di perangkat sendiri.
  2. Masukkan kode verifikasi yang dikirim ke nomor kamu.
  3. Periksa dan keluarkan linked device yang tidak dikenal.
  4. Aktifkan atau ganti verifikasi dua langkah.
  5. Amankan email yang terhubung ke WhatsApp.
  6. Ganti password akun penting lain jika ada kemungkinan perangkat ikut terkompromi.
  7. Periksa aplikasi asing atau malware di smartphone.
  8. Beri tahu kontak kalau sebelumnya menerima pesan penipuan dari akun kamu.

Kalau SIM card tiba-tiba kehilangan sinyal padahal normal sebelumnya, hubungi operator seluler.

Ada kemungkinan masalah berkaitan dengan kartu SIM atau proses lain yang memengaruhi nomor telepon.

Kalau smartphone diduga terkena malware berat, pertimbangkan pemeriksaan menyeluruh atau factory reset setelah data penting diamankan. WhatsApp sendiri menyebut factory reset sebagai salah satu langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan software berbahaya pada perangkat.

Jangan Lupa Mengamankan Email dan Nomor Telepon

WhatsApp tidak hidup sendirian.

Akunmu bergantung pada ekosistem lain.

Nomor telepon.

Email.

Google Account atau Apple ID untuk backup.

Password manager.

Kalau email utama diretas, proses pemulihan banyak akun lain ikut berisiko.

Karena itu gunakan:

  • password unik;
  • two-factor authentication pada email;
  • passkey jika tersedia;
  • screen lock yang kuat;
  • PIN kartu SIM jika dibutuhkan.

Security adalah rantai.

Kekuatan keseluruhannya sering mengikuti bagian yang paling lemah.

WhatsApp aman tetapi email tidak aman?

Tetap ada risiko.

Checklist Cara Mengamankan WhatsApp dari Pembajakan

Kalau ingin mengecek akun sekarang, gunakan checklist berikut:

  1. Update WhatsApp ke versi terbaru.
  2. Aktifkan verifikasi dua langkah.
  3. Tambahkan email pemulihan.
  4. Buat passkey jika tersedia.
  5. Aktifkan fingerprint atau Face ID lock.
  6. Buka Linked Devices dan cek semua perangkat.
  7. Logout perangkat yang tidak dikenal.
  8. Aktifkan end-to-end encrypted backup.
  9. Jangan pernah memberikan OTP.
  10. Jangan menggunakan WhatsApp MOD.
  11. Hapus aplikasi mencurigakan.
  12. Aktifkan Play Protect di Android.
  13. Jangan asal buka APK atau link.
  14. Update Android/iOS.
  15. Gunakan Strict Account Settings jika memang berisiko tinggi.

Tidak perlu menjadi ahli cybersecurity.

Sebagian besar langkah di atas hanya membutuhkan beberapa menit.

Kesimpulan

Jadi, cara mengamankan WhatsApp dari penyadapan dan pembajakan bukan mencari aplikasi “anti sadap”.

Justru hindari aplikasi yang mengklaim hal seperti itu tanpa dasar jelas.

Mulailah dari fitur keamanan resmi.

Aktifkan verifikasi dua langkah.

Gunakan passkey.

Periksa linked devices.

Kunci aplikasi dengan biometrik.

Amankan backup.

Jangan bagikan OTP.

Hindari APK dan WhatsApp MOD.

Selalu update perangkat.

WhatsApp memang sudah menggunakan end-to-end encryption secara default, tetapi keamanan akun tetap bergantung pada bagaimana kita menjaga perangkat, kredensial, dan akses ke akun.

Kalau ingin melakukan satu tindakan sekarang, buka:

WhatsApp → Settings → Linked Devices.

Lihat semua perangkat yang sedang login.

Kalau semuanya kamu kenal, lanjutkan ke Account → Two-step verification dan pastikan perlindungan tambahan sudah aktif.

Karena dalam banyak kasus, keamanan digital tidak membutuhkan trik rumit.

Yang paling efektif justru memastikan tidak ada orang lain yang mendapatkan akses yang seharusnya hanya dimiliki oleh kita.

 

#KeamananWhatsApp #WhatsApp #CyberSecurity #KeamananDigital #PrivasiOnline #AntiPhishing #KeamananAkun