Nastech Logo Nastech

Home News Ui & Ux

Ui & Ux

Cara Membuat Landing Page Jualan yang Efektif

Cara Membuat Landing Page Jualan yang Efektif

Pernah nggak kamu melihat landing page yang desainnya keren banget, penuh animasi, fotonya mahal, tetapi setelah dibaca malah bingung sebenarnya mereka jual apa? Atau mungkin kamu pernah mengalami sendiri. Sudah keluar biaya iklan, pengunjung masuk ratusan, tetapi yang klik tombol beli cuma sedikit. Rasanya seperti punya toko di lokasi ramai, tapi orang cuma lihat-lihat lalu pergi. Masalahnya sering kali bukan pada produknya. Landing page-nya yang belum bekerja dengan baik. Cara membuat landing page jualan yang efektif bukan sekadar memasang foto produk, harga, lalu tombol “Beli Sekarang”. Landing page harus bisa membawa pengunjung dari kondisi “Saya belum yakin” menjadi “Oke, saya mau coba”. Menariknya, data benchmark Unbounce yang diperbarui pada 2025 menunjukkan median conversion rate landing page berada di sekitar 6,6% untuk seluruh industri. Data tersebut berasal dari analisis lebih dari 41.000 landing page, 464 juta kunjungan, dan 57 juta conversion. (Unbounce) Artinya, kalau 1.000 orang datang ke sebuah landing page, secara kasar hanya sekitar 66 orang yang melakukan tindakan yang diinginkan pada median tersebut. Lalu bagaimana caranya membuat lebih banyak pengunjung mengambil tindakan? Mari kita bahas satu per satu.

Cara Membuat Landing Page Jualan yang Efektif Dimulai dari Satu Tujuan

Sebelum memilih warna tombol atau membuat headline, tentukan dulu satu hal:

Pengunjung harus melakukan apa setelah membuka halaman ini?

Apakah kamu ingin mereka membeli produk? Mengisi form? Menghubungi WhatsApp? Mendaftar webinar? Atau mencoba layanan secara gratis?

Satu landing page sebaiknya mempunyai satu tujuan utama.

Kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba memasukkan semuanya sekaligus. Ada tombol beli, tombol baca blog, link Instagram, katalog produk lain, menu About Us, link YouTube, dan berbagai navigasi lain.

Kelihatannya lengkap, tetapi justru bisa membuat pengunjung kehilangan fokus.

HubSpot dalam panduan landing page terbarunya juga menyarankan menghilangkan elemen yang bersaing dengan tujuan utama halaman, termasuk navigasi atau CTA sekunder yang tidak diperlukan. (HubSpot)

Bayangkan kamu sedang menawarkan kelas online desain grafis.

Tujuan landing page tersebut adalah membuat orang mendaftar kelas.

Berarti hampir seluruh elemen halaman harus membantu menjawab pertanyaan:

“Kenapa saya harus ikut kelas ini?”

Bukan malah mengajak pengunjung membuka lima halaman lain.

Landing page yang efektif sebenarnya mirip seorang sales yang fokus. Ia tidak membahas semuanya. Ia mengarahkan percakapan menuju satu keputusan.

Buat Headline yang Menjelaskan Manfaat, Bukan Sekadar Nama Produk

Bagian pertama yang dilihat pengunjung sangat menentukan.

Kalau dalam beberapa detik mereka belum paham apa yang kamu tawarkan, kemungkinan besar mereka akan pergi.

Itulah kenapa headline memiliki peran besar.

Misalnya kamu menjual aplikasi pencatatan keuangan.

Headline seperti:

“Aplikasi Keuangan Modern untuk Semua Orang”

terdengar cukup bagus.

Tapi masalahnya, manfaatnya masih samar.

Bandingkan dengan:

“Catat Pemasukan dan Pengeluaran Bisnis Tanpa Ribet Pakai Spreadsheet.”

Yang kedua langsung menjelaskan masalah dan manfaatnya.

HubSpot juga menyarankan menggunakan headline yang berorientasi pada benefit dan menempatkan value utama di bagian atas halaman agar pengunjung langsung memahami apa yang mereka dapatkan. (HubSpot)

Rumus sederhana headline landing page

Kamu bisa mencoba pola:

Dapatkan [hasil] tanpa [masalah utama].

Contohnya:

  • Kelola pesanan online tanpa mencatat manual.
  • Buat website bisnis tanpa perlu belajar coding.
  • Belajar bahasa Inggris 15 menit sehari tanpa kelas berjam-jam.
  • Tingkatkan penjualan tanpa menambah tim marketing.
  • Buat laporan keuangan tanpa ribet rumus Excel.

Headline yang efektif tidak harus terdengar super kreatif.

Justru sering kali headline sederhana dan jelas lebih kuat daripada headline yang terlalu pintar tetapi membuat orang berpikir, “Maksudnya apa?”

Cara Membuat Landing Page Jualan dengan Struktur yang Mudah Dipahami

Setelah headline, jangan langsung memasukkan semua informasi tentang produk.

Bayangkan kamu sedang berbicara dengan calon pembeli secara langsung.

Biasanya mereka akan bertanya secara bertahap.

“Ini produk apa?”

“Gunanya buat saya apa?”

“Kenapa saya harus percaya?”

“Harganya berapa?”

“Kalau nggak cocok bagaimana?”

Landing page yang baik mengikuti alur pertanyaan tersebut.

Struktur sederhana yang bisa digunakan misalnya:

  1. Hero section – headline, subheadline, visual, dan CTA utama.
  2. Masalah pelanggan – jelaskan pain point yang mereka alami.
  3. Solusi – tunjukkan bagaimana produk menyelesaikan masalah.
  4. Benefit utama – jelaskan hasil yang bisa diperoleh.
  5. Cara kerja produk – buat sesederhana mungkin.
  6. Social proof – testimonial, rating, jumlah pengguna, atau studi kasus.
  7. Harga atau penawaran – jelaskan apa yang mereka dapatkan.
  8. FAQ – jawab keraguan yang umum muncul.
  9. CTA terakhir – ajak pengunjung mengambil tindakan.

Struktur seperti ini sebenarnya mengikuti perjalanan berpikir calon pelanggan.

Jangan terburu-buru meminta mereka membeli sebelum mereka memahami alasan untuk membeli.

Tulis Copywriting Berdasarkan Masalah Pelanggan

Salah satu kesalahan terbesar dalam membuat landing page jualan adalah terlalu banyak membicarakan produk.

“Kami memiliki teknologi terbaru.”

“Produk kami mempunyai 20 fitur.”

“Perusahaan kami berdiri sejak 2018.”

Pertanyaannya: apakah pengunjung peduli?

Mereka mungkin peduli nanti. Tetapi pada awalnya, kebanyakan calon pembeli lebih memikirkan dirinya sendiri.

“Apakah ini bisa menyelesaikan masalah saya?”

Karena itu, ubah fitur menjadi manfaat.

Misalnya kamu menjual software kasir.

Jangan berhenti pada:

Fitur: Laporan penjualan otomatis.

Jelaskan menjadi:

“Tidak perlu menghitung omzet manual setiap malam. Laporan penjualan otomatis tersedia kapan pun kamu membutuhkannya.”

Atau:

Fitur: Sinkronisasi stok.

Ubah menjadi:

“Stok langsung diperbarui setelah transaksi, jadi kamu nggak perlu takut menjual barang yang ternyata sudah habis.”

Fitur menjelaskan apa yang dimiliki produk.

Benefit menjelaskan apa dampaknya bagi pelanggan.

Landing page jualan yang kuat biasanya lebih banyak berbicara menggunakan sudut pandang pelanggan.

Gunakan Visual yang Membantu Orang Membayangkan Produk

Landing page bukan galeri desain.

Setiap gambar harus mempunyai fungsi.

Kalau menjual produk fisik, tampilkan produk dari beberapa sisi atau saat digunakan.

Kalau menjual aplikasi, tampilkan screenshot dashboard.

Kalau menjual jasa, tunjukkan hasil pekerjaan.

Kalau menjual course, tampilkan preview materi.

Visual membantu calon pelanggan menjawab pertanyaan yang sulit dijelaskan menggunakan teks saja.

Misalnya kamu menjual template website untuk UMKM.

Daripada menulis:

“Template kami mempunyai desain modern dan responsif.”

Lebih baik tampilkan langsung bagaimana halaman tersebut terlihat di laptop dan smartphone.

Pengunjung bisa menilai sendiri.

HubSpot juga memasukkan visual pendukung sebagai salah satu elemen penting landing page, bersama headline, penjelasan penawaran, trust signal, dan form atau CTA. (HubSpot)

Tapi hati-hati.

Jangan memasukkan gambar besar hanya karena terlihat estetik.

Foto stok orang tersenyum sambil menunjuk laptop belum tentu membantu menjual produk.

Kalau visual tidak memperjelas manfaat, produk, atau bukti, mungkin visual tersebut tidak perlu ada.

Cara Membuat Landing Page Jualan Lebih Dipercaya dengan Social Proof

Bayangkan kamu menemukan dua toko online.

Toko pertama mengatakan:

“Produk kami sangat bagus.”

Toko kedua menunjukkan:

“4,9/5 dari 1.280 pembeli.”

Mana yang lebih meyakinkan?

Kemungkinan besar yang kedua.

Kita cenderung lebih percaya pada pengalaman orang lain dibanding klaim dari penjual sendiri.

Itulah fungsi social proof.

Bentuknya bisa bermacam-macam:

  • testimonial pelanggan;
  • rating;
  • jumlah pembeli;
  • jumlah pengguna;
  • logo perusahaan yang pernah menggunakan produk;
  • foto pelanggan;
  • studi kasus;
  • review marketplace;
  • hasil sebelum dan sesudah.

HubSpot juga menekankan bahwa social proof yang spesifik cenderung lebih kuat daripada testimonial generik. Bukti seperti hasil nyata, angka, nama pelanggan, atau pengalaman yang relevan dapat membantu menjawab keraguan calon pembeli. (HubSpot)

Misalnya jangan cuma menulis:

“Produknya bagus banget!”

Lebih kuat kalau menjadi:

“Setelah menggunakan sistem ini selama dua bulan, waktu rekap pesanan kami turun dari sekitar dua jam menjadi kurang dari 30 menit.”

Lebih konkret.

Lebih bisa dibayangkan.

Dan terasa jauh lebih nyata.

Buat Tombol CTA yang Jelas dan Sulit Terlewatkan

Setelah meyakinkan pengunjung, jangan membuat mereka bingung harus melakukan apa.

Di sinilah Call to Action atau CTA bekerja.

CTA adalah tindakan utama yang ingin kamu dorong.

Contohnya:

  • Beli Sekarang
  • Pesan Sekarang
  • Coba Gratis
  • Hubungi via WhatsApp
  • Daftar Kelas
  • Download Gratis
  • Mulai Sekarang

Hindari CTA yang terlalu samar seperti:

“Klik di Sini.”

Klik untuk apa?

Lebih baik:

“Coba Gratis 7 Hari.”

Atau:

“Pesan via WhatsApp.”

Pengunjung langsung tahu apa yang akan terjadi setelah menekan tombol.

HubSpot juga merekomendasikan agar CTA terlihat jelas, menggunakan bahasa berbasis tindakan, dan ditempatkan pada posisi yang mudah ditemukan termasuk pada tampilan mobile. (HubSpot)

Kalau landing page cukup panjang, CTA boleh muncul beberapa kali.

Misalnya setelah hero, setelah benefit, dan di akhir halaman.

Tetapi tujuannya tetap sama.

Jangan CTA pertama “Beli Produk”, CTA kedua “Follow Instagram”, lalu CTA ketiga “Baca Artikel”.

Fokus.

Jangan Membuat Form Lebih Panjang dari yang Dibutuhkan

Kalau tujuan landing page adalah mendapatkan leads, kemungkinan kamu membutuhkan form.

Masalahnya, banyak bisnis terlalu serakah dengan data.

Nama.

Email.

Nomor telepon.

Alamat.

Nama perusahaan.

Jabatan.

Jumlah karyawan.

Omzet.

Tanggal lahir.

Belum selesai juga?

Pengunjung baru mau download ebook gratis, tapi rasanya seperti mengisi formulir pengajuan kredit.

Setiap tambahan field menambah sedikit friksi.

HubSpot menyarankan hanya meminta informasi yang benar-benar dibutuhkan. Mereka juga membagikan contoh pengalaman campaign di mana penghapusan field nomor telepon membantu meningkatkan conversion karena pengunjung ternyata lebih keberatan memberikan nomor HP dibanding email atau nama perusahaan. (HubSpot)

Kalau cuma membutuhkan email untuk mengirim ebook, minta email.

Informasi tambahan bisa dikumpulkan nanti.

Prinsipnya sederhana:

Jangan meminta terlalu banyak sebelum pelanggan mendapatkan alasan untuk percaya.

Pastikan Landing Page Nyaman Dibuka di Smartphone

Coba sekarang buka landing page kamu lewat HP.

Jangan lewat preview desktop yang dibuat kecil.

Buka benar-benar dari smartphone.

Apakah headline terbaca?

Apakah tombol CTA cukup besar?

Apakah gambar terlalu lama loading?

Apakah form mudah diisi?

Apakah ada popup yang menutupi hampir seluruh layar?

Ini penting karena calon pembeli tidak selalu datang menggunakan laptop.

HubSpot memasukkan responsive design dan pengujian menggunakan perangkat nyata sebagai bagian penting dari optimasi landing page. (HubSpot)

Ada kasus yang sering terjadi.

Pemilik bisnis membuka landing page dari laptop dan merasa semuanya sudah sempurna.

Ternyata setelah iklan Instagram berjalan, mayoritas traffic datang dari HP.

Saat dibuka lewat smartphone, tombol WhatsApp terlalu kecil dan form-nya berantakan.

Traffic ada.

Budget iklan keluar.

Tapi conversion rendah.

Masalah seperti ini bukan masalah marketing.

Masalahnya pengalaman pengguna.

Kecepatan Landing Page Bisa Lebih Penting dari Animasi Keren

Landing page yang cantik tidak berguna kalau pengunjung keburu pergi sebelum halaman selesai terbuka.

Karena itu, jangan terlalu berlebihan menggunakan:

  • video autoplay berukuran besar;
  • animasi kompleks;
  • terlalu banyak plugin;
  • gambar beresolusi sangat tinggi;
  • script pihak ketiga yang tidak perlu.

HubSpot menempatkan page speed sebagai salah satu praktik utama dalam membuat landing page berkonversi tinggi. Mereka menyarankan kompresi gambar, membatasi animasi, serta menghindari script berat jika tidak benar-benar dibutuhkan. (HubSpot)

Landing page jualan bukan tempat membuktikan seberapa banyak efek animasi yang bisa dibuat developer.

Fungsinya menjual.

Kalau animasi membantu menjelaskan produk, gunakan.

Kalau hanya memperlambat website, hapus.

Kadang landing page sederhana dengan headline jelas, foto produk, testimonial, dan CTA kuat bisa menjual lebih baik dibanding halaman yang terasa seperti demo teknologi.

Contoh Kasus: Landing Page yang Ramai Tapi Tidak Menghasilkan Penjualan

Bayangkan sebuah bisnis lokal menjual kelas memasak online.

Mereka menjalankan iklan dan berhasil mendapatkan 2.000 pengunjung.

Landing page terlihat cantik.

Ada banyak foto makanan.

Ada profil chef.

Ada cerita panjang tentang sejarah bisnis.

Ada link ke Instagram, TikTok, YouTube, blog, dan marketplace.

Masalahnya?

Pengunjung tidak langsung tahu apa yang akan mereka dapatkan ketika membeli kelas.

Harga baru muncul hampir di akhir.

CTA hanya muncul sekali.

Testimonial tidak ada.

Jadwal kelas juga tidak jelas.

Solusinya bukan langsung menaikkan budget iklan.

Landing page-nya harus diperbaiki dulu.

Misalnya struktur baru dibuat:

Headline:
“Belajar Membuat 5 Menu Rice Bowl Siap Jual dalam 2 Jam.”

Kemudian:

  • preview hasil masakan;
  • daftar menu yang dipelajari;
  • siapa yang cocok ikut;
  • video singkat kelas;
  • testimonial peserta;
  • harga;
  • bonus resep PDF;
  • CTA “Daftar Kelas Sekarang”.

Traffic-nya bisa saja tetap sama.

Tetapi pengalaman calon pelanggan berubah total.

Inilah poin yang sering terlupakan:

Landing page tidak menciptakan kebutuhan. Landing page menghilangkan keraguan yang menghalangi orang mengambil keputusan.

Ukur Conversion Rate, Jangan Cuma Jumlah Pengunjung

Ada satu angka yang wajib dipahami kalau kamu serius membuat landing page jualan.

Namanya conversion rate.

Rumus sederhananya:

Conversion Rate = Jumlah Conversion ÷ Jumlah Pengunjung × 100%

Misalnya:

1.000 orang membuka landing page.

50 orang membeli.

Conversion rate = 5%.

Seperti disebutkan sebelumnya, analisis Unbounce terhadap 41.000 landing page menunjukkan median conversion rate lintas industri sekitar 6,6%. Tetapi angka tersebut bukan target universal. Industri, harga produk, sumber traffic, dan jenis tindakan yang diminta sangat memengaruhi conversion. (Unbounce)

Produk seharga Rp50.000 jelas mempunyai karakter conversion yang berbeda dari layanan konsultasi Rp20 juta.

Jadi jangan obsesif membandingkan angka dengan website orang lain.

Lebih berguna membandingkan landing page-mu dengan performanya sendiri.

Gunakan A/B Testing untuk Menemukan Versi Terbaik

Kadang perubahan kecil bisa menghasilkan perbedaan besar.

Misalnya kamu tidak tahu headline mana yang lebih menarik.

Versi A:

“Software Kasir Modern untuk UMKM.”

Versi B:

“Kelola Pesanan dan Stok Tanpa Catatan Manual.”

Jangan debat dua jam di grup WhatsApp.

Tes saja.

A/B testing berarti membagi traffic ke dua versi halaman kemudian membandingkan hasilnya.

Elemen yang bisa diuji misalnya:

  • headline;
  • CTA;
  • foto utama;
  • harga;
  • susunan section;
  • testimonial;
  • panjang form;
  • copywriting;
  • penawaran bonus.

HubSpot juga merekomendasikan A/B testing sebagai salah satu cara mengetahui desain dan pesan mana yang paling efektif bagi audiens. (HubSpot)

Tetapi jangan mengubah sepuluh hal sekaligus.

Kalau semuanya diubah, kamu tidak tahu faktor mana yang sebenarnya memengaruhi hasil.

Tes sedikit demi sedikit.

Checklist Cara Membuat Landing Page Jualan yang Efektif

Sebelum menjalankan iklan atau membagikan landing page, coba cek sekali lagi.

Apakah halamanmu sudah mempunyai:

  • headline yang langsung menjelaskan manfaat;
  • satu tujuan utama;
  • CTA yang jelas;
  • penjelasan masalah pelanggan;
  • benefit produk;
  • visual produk;
  • social proof;
  • harga atau penawaran yang mudah ditemukan;
  • FAQ;
  • tampilan mobile yang nyaman;
  • waktu loading yang cepat;
  • tracking conversion.

Kalau beberapa elemen belum ada, jangan langsung panik.

Landing page tidak harus sempurna saat pertama diluncurkan.

Yang penting kamu mempunyai versi awal yang jelas dan bisa diukur.

Setelah itu baru optimasi berdasarkan data.

Kesimpulan

Jadi, cara membuat landing page jualan yang efektif bukan dimulai dari memilih template paling keren.

Mulailah dari memahami calon pelanggan.

Apa masalah mereka?

Apa yang ingin mereka dapatkan?

Apa yang membuat mereka ragu?

Apa bukti yang bisa membuat mereka percaya?

Kemudian susun landing page untuk menjawab pertanyaan tersebut satu per satu.

Buat headline yang jelas. Tunjukkan manfaat produk. Berikan bukti. Kurangi gangguan. Gunakan CTA yang mudah ditemukan. Pastikan halaman cepat dan nyaman digunakan lewat smartphone.

Setelah halaman mulai mendapatkan traffic, jangan berhenti.

Lihat datanya.

Berapa orang yang mengunjungi halaman? Berapa yang klik CTA? Berapa yang mulai checkout tetapi batal? Section mana yang paling banyak dilihat?

Kemudian perbaiki.

Karena landing page dengan conversion tinggi biasanya bukan lahir dari satu desain sempurna.

Ia lahir dari proses buat, ukur, pelajari, lalu optimasi.

Kalau kamu sedang punya produk atau jasa, coba lakukan satu tindakan hari ini: buka landing page-mu sebagai calon pelanggan, lalu tanyakan, “Dalam lima detik pertama, apakah saya langsung tahu apa yang dijual dan kenapa saya harus peduli?”

 

#LandingPage #DigitalMarketing #JualanOnline #WebsiteBisnis #ConversionRate #Copywriting #OnlineMarketing